Breaking News

Selasa, 24 Januari 2017

Membumikan Literasi

Buku adalah gudangnya ilmu pengetahuan, membaca adalah kuncinya. Entah siapa yang membuat istilah ini, tapi ungkapan ini sudah masyhur dikenal masyarakat.

Kalau diibaratkan gudang tentu saja peran kunci sangat penting, jika tidak memiliki kunci tentu kita tidak akan bisa masuk ke gudang tersebut.

Demikian juga dengan pengetahuan, kita menjadi orang yang kurang berpengetahuan/kurang berilmu karena kita kurang membaca. Ibarat kita mau menuju ke suatu kota, jika kita tidak memiliki petunjuk tentangnya, maka kita akan kesulitan mencapai kota terebut.

Sama halnya dengan hidup ini, jika kita tidak memiliki petunjuk dari mana asal kita, untuk apa kita hidup di dunia, kemana kita akan pergi setelah kehidupan dunia ini, maka kita pun akan tersesat. Agar  kita bisa memaknai hidup ini, kita harus banyak membaca, banyak belajar.

Membaca/belajar adalah kuncinya. Semakin banyak kita membaca maka semakin banyak pula ilmu pengetahuan yang akan kita dapatkan.

Islam sangat mendorong umatnya untuk gemar membaca. Ayat pertama yang diturunkan dalam Al Qur'an adalah Iqra' (perintah membaca). Masih banyak lagi ayat-ayat yang memerintahkan kepada ulil albab (orang berakal) agar menggunakan akalnya dalam memahami keberadaan Allah SWT.
Dengan memahami keberadaan alam semesta dan seisinya,orang yang cerdas pasti memahami dibalik semua itu pasti ada sang Pencipta.

Karenanya sebuah kesalahan beripikir bagi orang-orang atheis/komunis yang tidak percaya adanya Tuhan lantaran mereka tidak bisa melihat wujud Tuhan.
Bukankah kita meyakini adanya udara di sekitar kita, meski kita tidak bisa melihat wujudnya. Bukankah kita meyakini adanya partikel-partikel yang sangat kecil, seperti atom, nuklir,plutonium dsb meski kita tidak bisa melihat dengan kasat mata.

Membaca dan menulis (budaya literasi), sangat lekat dan mendapatkan apresiasi yang luar biasa dalam Islam. Wajar jika lahir tokoh besar dunia yang namanya dikenang sepanjang masa.
Dalam masa kejayaan Islam, banyak intelek dan ulama besar Islam yang namanya dikenang  karena karya karya hebat mereka.

Sebagai contoh Imam as syafii, imam hanafi, imam malik, dll  yang telah menuliskan kitab-kitab panduan dalam mengimplementasikan ajaran Islam dalam beribadah kepada Allah Swt,menjalin komunikasi antar sesama manusia, juga mengatur  kehidupan dunia agar sesuai dgn perintah Allah dan Rasul-Nya.

Berkat ulama-ulama hebat tersebut kita bisa  belajar islam, kita bisa menjadikan islam sebagai pedoman hidup kita, kita bisa mengetahui bgm cara beribadah kepada Sang Khaliq, dsb.

Apa jadinya jikalau orang-orang hebat (ulama) tersebut tidak menuliskan dalam kitab-kitab apa yang telah beliau pelajari? Tentu kita akan kebingungan mencari referensi sebagai pedoman kita dalam menjalani kehidupan di dunia.

Beliau bisa menjadi penulis hebat yang dikenang sepanjang sejarah karena membaca. Lalu beliau menuliskan apa yang dipelajari menjadi sebuah kitab yang kemudian diikuti oleh banyak orang.

Berapa banyak investasi pahala yang akan terus beliau dapatkan karena mengajarkan kebaikkan, karena beliau mengajarkan pengetahuan.

Ilmu pengetahuan yang dikenal dengan tsaqofah islam,setiap orang yang mengerjakan kebaikan karena membaca karyanya, setiap itu pula Allah mengalirkan pahalanya bagi sang penulis.

Luar biasa apresiasi Islam terhadap orang-orang yang berilmu.
Dalam Al Qur'an disebut: "Allah akan mengangkat orang2 yang beriman diantara kalian dan orang2 yang berilmu, diantara kalian beberapa derajat"

Tidak cukup hanya disitu, pada masa pemerintahan Islam, contoh Khalifah Umar bin Khathab, beliau memberikan hadiah kepada para penulis emas seberat buku yang mereka tulis. Subhanallah! Luar biasa apresiasi Islam kepada orang-orang yang beriman dan berilmu serta mau membagikan ilmunya.

Karenanya kita harus menumbuhkan budaya membaca dalam diri keluara kita masing-masing. Luangkan waktu untuk membaca 30 menit sehari, ajaklah keluarga anda untuk bersama-bersama membaca. Membaca apa saja yang disenangi, mulai membaca Al Qur'an dan memahami maknanya, membaca buku-buku agama, buku ilmu pengetahuan umum, sejarah kehidupan nabi, sejarah para sahabat Nabi dll, agar terbentuk karakter sbg mana para sahabat, orang-orang yang beriman. Bagaimana kita bisa membentuk karakter anak yang sholeh, kalau sehariannya tidak dibiasakan dgn asupan pembiasaan perbuatan yang baiń∑ dan benar. Sementara di luaran sana setiap saat selalu diserang dgn kebiasaan yang berlawanan dgn kebiasaan orang sholeh.
Setelah terbiasa dengan budaya membaca, mulai menuliskan intisari apa yang kita baca, sehingga akan mudah dilihat kembali.

Jadilah kita orang2 yang akan dikenang sepanjang sejarah karena karya-karya kita. Jadikan keluarga kita sebagai orang-orang yang akan meneruskan budaya membaca dan menulis, yang akan menyebarkan kebaikkan di muka bumi ini.

Kurangi kebiasaan menonton televisi, karena bisa mematikan kreatifitas jika yang dilihat tidak bergizi. Jangan biarkan hibur anak dgn memberikan game, karena pada dasarnya itu akan menimbulkan kecanduan pada anak dan akhirnya malas. Malas belajar, malas membaca, malas untuk berpikir.

Sebagai gantinya kita harus memberikan asupan bergizi bagi anak2 kita, buku2 bacaan, majalah,  diajak jalan2 ke tokobuku, ke pameran buku, untuk menanamkan rasa cinta buku, suka membaca. Jadikan generasi Islam pewaris dan penerus para ulama, yang faqih fiddin dan juga mahir dlm ilmu dunia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Designed Template By Blogger Templates - Powered by GusDarMeDia